Mencegah Aksi Kekerasan Berlatarbelakang Agama

Pencegahan Kekerasan dengan Mengatasnamakan Agama

Pendahuluan

Merebaknya beberapa kasus kekerasan bermotif SARA yang terjadi di Cikeusik Pandeglang, Temanggung, dan terakhir di Pasuruan, memunculkan keprihatian banyak pihak, tidak saja masyarakat tetapi juga pemerintah.

Bagi masyarakat, maraknya kasus kekerasan menimbulkan pertanyaan tentang apakah hak warga Negara untuk bebas beragama dan berkeyakinan masih memperoleh perlindungan dari Negara, padahal  konstitusi dengan tegas memberikan jaminan atas kebebasan tersebut, sedangkan bagi pemerintah, maraknya kasus kekerasan  patut menjadi pertanda apakah pemerintah sebagai institusi yang sejatinya menjadi pelindung masyarakat, sudah kehilangan wibawanya dihadapan masyarakat, sehingga kekerasan terjadi secara berulang tanpa  sedikitpun masyarakat  takut melakukannya.

Munculnya berbagai aksi kekerasan, khususnya yang mengatasnamakan agama dan kelompok, menimbulkan berbagai pandangan seakan-akan kehidupan beragama di Indonesia sudah berada dalam kondisi kritis karena memudarnya rasa toleransi dalam kemajemukan. Konflik internal dan lintas agama tidak henti-hentinya mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga korban pun terus berjatuhan. Ironisnya, tokoh agama dan tokoh masyarakat yang diharapkan menjadi peredam  terjadinya aksi kekerasan, justru telah berubah menjadi pemicu dan pendukung utama aksi ini.

Tanpa bermaksud mencari siapa yang benar dan siapa yang salah sehingga kasus kekerasan datang bertubi-tubi di tengah-tengah masyarakat, kita semua sepakat bahwa kekerasan tidak boleh dijadikan instrument untuk menyelesaikan berbagai persoalan, baik persoalan sosial, hukum, maupun keagamaan, karena dengan penyelesaian melalui kekerasan sudah dapat dipastikan akan memunculkan permasalahan baru yang tidak kalah kompleksnya;

Munculnya keprihatinan terhadap aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama di Indonesia, tidak hanya terjadi pada beberapa bulan terakhir ini saja, tetapi sudah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga kesan yang muncul bagi sebagian kalangan adalah pemerintah melakukan pembiaran terhadap aksi kekerasan ini, sekedar untuk mengalihkan dari beberapa issu sensitif;

Maraknya aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama dan kelompok masyarakat, tanpa pemerintah mampu mengatasinya, tentunya memunculkan berbagai gugatan dari masyarakat terkait peran pemerintah sebagai institusi pelindung warga negara, mengingat konstitusi dengan tegas memberikan jaminan kepada semua warga Negara untuk bebas dalam menjalankan agama dan keyakinannya, sehingga ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan jaminan ini dianggap sebagai sebuah kegagalan dalam menjalankan perannya.

Demikian kompleksnya masalah kekerasan berlatarbelakang masalah SARA yang menyelimuti kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga banyak pihak yang mengusulkan berbagai solusi, seperti pembubaran kelompok atau Ormas yang selama ini disinyalir sebagai dalang dari semua aksi kekerasan, menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang untuk mengatur masalah kekerasan Agama dan Golongan hingga munculnya himbauan kepada aparat keamanan untuk melakukan  tindakan tegas dalam bentuk tembak ditempat terhadap pelaku yang secara sengaja melakukan kekerasan agama dan kelompok ini.

Apapun solusi yang dikemukakan oleh berbagai kalangan, tampaknya mereka mimiliki kesamaan pendapat yaitu semua komponen bangsa merindukan kedamaian kembali terwujud di bumi pertiwi, karena tanpa kedamaian, sikap saling mencurigai antar kelompok agama atau masyarakat akan tetap tumbuh subur, yang dapat menjadi pemicu terganggunya keutuhan bangsa dan Negara Indonesia.

Aksi kekerasan di Indonesia

Jika memperhatikan pada data yang dihimpun oleh berbagai kalangan, baik  pemerintah maupun non pemerintah, terkait aksi kekerasan yang ditujukan kepada penganut agama (keyakinan) atau kelompok tertentu, memang tidak ada kesamaan. Namun yang pasti, angka kekerasan ini mengalami peningkatan yang relatif signifikan pada beberapa tahun terakhir ini. Bahkan, pada 2 (dua) bulan pertama tahun 2011, tidak kurang dari 3 (tiga) kasus kekerasan dengan mengatasnamakan agama sudah terjadi. Angka ini belum termasuk aksi-aksi kekerasan yang dilakukan di luar alasan keagamaan, seperti aksi kekerasan di gedung pengadilan, kekerasan mahasiwa, kekerasan supporter olah raga, dan sebagainya.

Menghadapi fenomena kekerasan ini, sudah banyak upaya yang dilakukan jajaran Polri untuk mengatasinya, baik dengan pendekatan, preemptif, preventif, hingga represif. Bahkan, hampir dalam setiap Rencana Strategis Polri, masalah penanggulangan kekerasan selalu menjadi prioritas utama untuk diselesaikan. Namun tetap saja kekerasan demi kekerasan terjadi.

Kondisi ini semakin memberikan gambaran bahwa penanggulangan kekerasan, tidak dapat dilakukan hanya oleh institusi Polri semata, tanpa adanya dukungan dari instansi terkait lainnya, karena kekerasan sudah menjadi permasalahan yang multi aspek.

Jika memperhatikan pada kasus-kasus kekerasan yang terjadi selama ini, banyak faktor yang menjadi pemicu munculnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh anggota masyarakat yang mengatasnamakan agama atau kelompok, di antaranya:

  1. Adanya kesalahan dalam mengimplementasikan perintah agama, sehingga golongan yang berbeda keyakinan dianggap sebagai lawan;
  2. Masih kuatnya sikap saling curiga mencurigai antara umat beragama atau kelompok tertentu;
  3. Munculnya kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan kelompok tertentu;
  4. Tidak mengakarnya rasa  toleransi dikalangan masyarakat, sehingga yang muncul adalah bagaimana mempertahankan agar kelompoknya yang paling benar;
  5. Kekurangtegasan dalam bersikap dari pemerintah dalam menghadapi aksi kekerasan yang dilakukan kelompok agama atau masyarakat tertentu, sehingga para pelaku seolah kebal terhadap hukum;
  6. Pandangan pemerintah dan masyarakat selama ini selalu menyebutkan bahwa toleransi di Indonesia sudah baik sehingga kasus-kasus kekerasan yang terjadi selalu dianggap sebagai masalah kecil, padahal hal tersebut memicu munculnya sikap tidak waspada.

Alternatif Penyelesaian

Agar kasus-kasus kekerasan yang selama ini terjadi tidak menjadi pemicu munculnya kondisi disharmonis di antara anggota masyarakat, sekaligus mencegah pemerintah kehilangan wibawanya di mata masyarakat, maka perlu ditetapkan beberapa alternatif penyelesaian, di antaranya:

  1. Meningkatkan deteksi dini terhadap berbagai peristiwa yang potensial menjadi pemicu munculnya aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama atau kelompok;
  2. Menghimbau kepada instansi terkait (pemerintah atau non pemerintah) untuk berupaya mencegah mengeluarkan kebijakan yang dapat memicu terjadinya aksi kekerasan masa dengan mengatasnamakan agama atau kelompok;
  3. Melakukan sosialisasi tentang upaya mewujudkan keharmonisan antar warga masyarakat bersama dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat, sehingga dapat dihasilkan kesamaan pandang tentang makna keharmonisan;
  4. Melakukan kaji ulang terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang potensial menjadi pemicu munculnya kondisi disharmonis di tengah-tengah masyarakat;
  5. Melakukan berbagai aksi sosial dan keagamaan yang ditujukan untuk membangun dan menumbuhkembangkan rasa solidaritas dan harmonitas antar umat beragama (masyarakat);
  6. Meminta dukungan dari berbagai kalangan, legislatif, eksekutif, dan yudikatif, tidak terkecuali tokoh agama dan tokoh masyarakat, terhadap setiap tindakan tegas yang akan dilakukan guna mencegah kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan kelompok, sehingga setiap tindak tegas tidak dianggap sebagai pelanggaran HAM.

Penutup

Berbagai bentuk kekerasan sudah saatnya diakhiri. Semua pihak harus melakukan berbagai upaya yang lebih komprehensif dan terarah untuk menciptakan kehidupan keagamaan yang toleran dan damai di bumi Indonesia. Jika tidak, berarti kita menyimpan bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu, bukan hanya menghancurkan umat beragama, tetapi juga Indonesia tercinta.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: